Monday, October 12, 2009

Kebudayaan Betawi

Ondel-ondel, maskot kota Jakarta (Betawi)

LATAR BELAKANG
Seiring perkembangan jaman yang semakin cepat, kita mendapati bahwa semakin hilangnya batas-batas yang bisa membedakan kita dengan daerah atau kebudayaan lain yang ada di dunia. Sulit untuk mencari jati diri kebudayaan asli yang dulu pernah ada dan dijadikan panutan hidup oleh masyarakat. Dapat kita simpulkan bahwa dunia pada jaman ini bukanlah lagi ‘bulat’, melainkan sudah menjadi dunia yang ‘datar’, dimana tidak ada lagi perbedaan yang jelas antara kebudayaan yang satu dengan kebudayaan yang lain.
Di dalam sebuah kebudayaan, terdapat faktor-faktor yang membentuk tercipatanya sebuah kebudayaan tersebut. Misalnya, dari keadaan geografis dan geologis daerah tersebut, tingkat kesejahteraan masyarkat, sikap dan tingkah laku masyarakat, jumlah penduduk di daerah tersebut, dan banyak faktor lainnya.
Suku Betawi sebenarnya tergolong suku pendatang baru di Jakarta. Merupakan perpaduan etnis dan bangsa lewat perkawinan yang terjadi di masa lalu. Hal ini tentu saja berkaitan dengan banyaknya faktor - faktor yang mempengaruhi proses terciptanya kebudayaan Betawi itu sendiri, yang salah satu contohnya adalah bahasa Betawi itu sendiri. Mengingat banyaknya unsur – unsur yang mempengaruhi kebudayaan Betawi, penuli smerasa tertarik untuk mengetahi hubungan dan perkembangan unsur – unsur di dalam kebudayaan tersebut.


1. Bahasa
Sifat campur-aduk dalam dialek Betawi adalah cerminan dari kebudayaan Betawi secara umum, yang merupakan hasil perkawinan berbagai macam kebudayaan, baik yang berasal dari daerah-daerah lain di Indonesia maupun kebudayaan yang berasal dari negara – negara asing.
Ada juga yang berpendapat bahwa suku bangsa yang mendiami daerah sekitar Batavia juga dikelompokkan sebagai suku Betawi awal (proto Betawi). Menurut sejarah, Kerajaan Tarumanagara, yang berpusat di Sundapura atau Sunda Kalapa, pernah diserang dan ditaklukkan oleh kerajaan Sriwijaya dari Sumatera. Oleh karena itu, tidak heran kalau etnis Sunda di pelabuhan Sunda Kalapa, jauh sebelum Sumpah Pemuda, sudah menggunakan bahasa Melayu, yang umum digunakan di Sumatera, yang kemudian dijadikan sebagai bahasa nasional.
Karena perbedaan bahasa yang digunakan tersebut maka pada awal abad ke-20, Belanda menganggap bahwa orang - orang yang tinggal di sekitar Batavia merupakan etnis yang berbeda dengan etnis Sunda dan menyebutnya sebagai etnis Betawi (kata turunan dari Batavia). Walau demikian, masih banyak nama daerah dan nama sungai yang masih tetap dipertahankan dalam bahasa Sunda seperti kata Ancol, Pancoran, Cilandak, Ciliwung, Cideng (yang berasal dari Cihideung dan kemudian berubah menjadi Cideung dan tearkhir menjadi Cideng), dan lain-lain yang masih sesuai dengan penamaan yang digambarkan dalam naskah kuno Bujangga Manik yang saat ini disimpan di perpustakaan Bodleian, Oxford, Inggris.
Meskipun bahasa formal yang digunakan di Jakarta adalah Bahasa Indonesia, bahasa informal atau bahasa percakapan sehari-hari adalah Bahasa Indonesia dialek Betawi.

2. Sistem Pengetahuan
Di Jakarta sebelum era pembangunan orde baru, orang Betawi terbagi atas beberapa profesi menurut lingkup wilayah (kampung) mereka masing-masing. Misalnya di kampung Kemanggisan dan sekitaran Rawabelong banyak dijumpai para petani kembang (anggrek, kemboja jepang, dan lain-lain). Dan secara umum banyak menjadi guru, pengajar, dan pendidik semisal K.H. Djunaedi, K.H. Suit, dll. Profesi pedagang, pembatik juga banyak dilakoni oleh kaum betawi. Petani dan pekebun juga umum dilakoni oleh warga Kemanggisan.
Kampung yang sekarang lebih dikenal dengan Kuningan adalah tempat para peternak sapi perah. Di Kemanggisan, banyak di dapati orang-orang yang ahli dalam pencak silat. Misalnya Ji'ih, teman seperjuangan Pitung dari Rawabelong. Di kampung Paseban banyak warga adalah kaum pekerja kantoran sejak jaman Belanda dulu, meski kemampuan pencak silat mereka juga tidak diragukan. Guru, pengajar, ustadz, dan profesi pedagang eceran juga kerap kali menjadi profesi mereka.
Warga Tebet aslinya adalah orang-orang Betawi gusuran Senayan, karena saat itu Ganefo yang dibuat oleh Bung Karno menyebabkan warga Betawi pindah ke Tebet dan sekitarnya untuk "terpaksa" memuluskan pembuatan kompleks olahraga Gelora Bung Karno yang kita kenal sekarang ini. Dikarenakan asal - muasal bentukan etnis mereka adalah multikultur (orang Nusantara, Tionghoa, India, Arab, Belanda, Portugis, dan lain-lain), profesi masing-masing kaum disesuaikan pada cara pandang bentukan etnis dan bauran etnis dasar masing-masing

3. Sistem Peralatan dan Teknologi
Betawi sekarang ini dapat kita sebut sebagai Jakarta. Ibu kota Indonesia tentu memiliki perkembangan yang bisa dikatakan paling pesat dari semua daerah yang tersebar di Indonesia. Begitu juga dengan pesatnya perkembangan tekhnologi yang dialami di Jakarta. Walaupun masih dibilang sedikit tertinggal disbanding negara-negara maju lainnya, Indonesia sebagai negara berkembang memiliki perkembangan yang maju di bidang peralatan dan tekhnologi.
Sejak kedatangan para pendatang asing ke Betawi, dimulai dari Belanda, Jepang, Inggris, dan lain sebagainya, rakyat Suku Betawi sudah disuguhkan dengan barang – barang yang didatangkan dari negara asing tersebut, seperti senjata api, kapal laut, kompas, teropong, peralatan pabrik dan bercocok tanam, dan lain sebagainya. Hal tersebut membuat masyarakat asli di daerah Betawi menjadi mengenal dan baik secara langsung maupun tidak langsung, mengikuti perkembangan teknologi tersebut.
Sekarang ini, perkembangan tekhnologi masyarakat Betawi masih mengikuti perkembangan yang terjadi di negara – negara maju lainnya, khususnya negara Asia, misalnya Jepang. Masyarakat Betawi banyak mengadaptasi perkembangan peralatan tekhnologi yang di buat di Jepang.
Sayang untuk dikatakan, tetapi masyarakat Betawi merupakan konsumen yang memiliki sifat ‘konsumtif’ yang secara langsung mempengaruhi negara kita. Perkembangan global atau modernisasi yang ingin selalu diikuti oleh masyarakat membuat masyarakat Jakarta melakukan adaptasi dengan cara ‘mengonsumsi’ barang – barang yang diproduksi oleh negara – negara asing, dan bukan menggunakan produk lokal atau produk dalam negri.

4 Sistem Mata Pencaharian
Kini Jakarta yang berpredikat sebagai Daerah Khusus Ibukota, luas wilayahnya 600 Km2 dan secara astronomis terletak diantara 608 - 11045 L.S. dan 94045Â - 94005 B.T. Rata-rata tinggi wilayah dari permukaan air laut kira-kira 7 meter. Di wilayah bagian Selatan keadaan tanahnya lebih subur dibandingkan dibagian Utara, sehingga di daerah ini penduduk asli kebanyakan mata pencaharian utamanya adalah bertani, baik bertani padi, sayur-sayuran maupun buah-buahan. Dengan perkembangan penduduk yang semakin meningkat, maka tanah-tanah pertanian maupun perkebunan semakin sempit karena dijadikan tempat pemukiman baru. Hal tersebut turut merubah mata pencaharian penduduk menjadi pedagang, buruh, tukang dan sebagainya. Sedangkan mereka yang bermukim di daerah Utara umumnya menjadi nelayan.

5. Unsur Organisasi Sosial
Masyarakat Betawi atau Jakarta asli dalam hal susunan masyarakat dan sisitem kekerabatanya, pada umumnya menganut sisitem patrilineal yaitu menghitung hubungan kekerabatan melalui garis keturunan laki-laki saja. Karena itu mengakibatkan tiap-tiap individu dalam masyarakat memasukan semua kaum kerabat ayah dalam hubungan kekerabatannya, sedangkan semua kaum kerabat ibu diluar garis hubungan kekerabatannya.
Perlu diakui, asumsi masyarakat tentang Suku Betawi memiliki penilaian yang menganggap bahwa masyarakat Betawi jarang mencapai keberhasilan, baik dalam segi ekonomi, pendidikan dan teknologi. Padahal, bila kita tinjau lebih jauh, tidak sedikit orang Betawi yang berhasil. Misalnya saja Muhammad Husni Thamrin, Benyamin S, bahkan hingga Gubernur Jakarta saat ini, Fauzi Bowo.
Ada beberapa hal yang positif yang dimiliki oleh masyarakat Betawi antara lain, jiwa sosial mereka tergolong sangat tinggi, walaupun terkadang dalam beberapa hal terlalu berlebih dan cenderung tendensius atau fanatik. Orang Betawi juga sangat menjaga nilai - nilai agama yang tercermin dari ajaran orang tua (terutama yang beragama Islam) kepada anak-anaknya. Masyarakat Betawi sangat menghargai pluralisme. hal ini terlihat dengan hubungan yang baik antara masyarakat Betawi dan pendatang dari luar Jakarta. Orang Betawi sangat menghormati budaya yang mereka warisi. terbukti dari perilaku kebanyakan warga yang mesih memainkan lakon atau kebudayaan yang diwariskan dari masa ke masa seperti lenong, ondel-ondel, gambang kromong, dan lain-lain.
Memang tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan sebagian besar masyarakat Betawi masa kini agak terpinggirkan oleh modernisasi yang ironisnya terjadi di daerah atau tanah masyarakat Betawi sendiri. Namun, tetap ada optimisme dari masyarakat Betawi bahwa masyarakat generasi mendatang akan mampu menopang modernisasi tersebut.

6. Sistem Religi
Sebagian besar masyarakat Suku Betawi menganut agama Islam. Tetapi terdapat sebagian kecil masyarakat Betawi yang menganut agama lain selain Islam seperti agama Kristen, Protestan, dan Katholik walaupun hanya sedikit. Agama Kristen di kalangan masyarakat Betawi masuk dan tersebar di kalangan masyarakat Betawi melalui bangsa Portugis, dimana pada abad ke -16, raja Sunda, Surawisesa, mengadakan perjanjian dengan Portugis yang memperbolehkan Portugis membangun benteng dan gudang di pelabuhan Sunda Kelapa, sehingga terjadinya proses pertukaran agama melalui perkawinan campuran antara orang Portugis dan penduduk lokal.

7. Sistem Kesenian
Tidak berbeda halnya dalam bidang kesenian. Terdapat percampuran kebudayaan yang menyebabkan Suku Betawi memiliki beragam kesenian. Misalnya, orang Betawi memiliki seni Gambang Kromong yang berasal dari seni musik Tionghoa. Tetapi juga ada Rebana yang berakar pada tradisi musik Arab, Keroncong Tugu dengan latar belakang Portugis-Arab,dan Tanjidor yang berlatarbelakang ke-Belanda-an. Saat ini Suku Betawi terkenal dengan seni Lenong, Gambang Kromong, Rebana Tanjidor dan Keroncong, yang merupakan perpaduan dari budaya asing dan budaya lokal.

Tanjidor

Masyarakat Betawi umumnya mengenal 4 bentuk arsitektur tradisional bagi rumah adat mereka yaitu rumah tipe gudang, tipe bapang, tipe kebaya dan tipe joglo. Rumah tipe gudang dan bapang mempunyai bentuk segi empat yang sangat sederhana dan polos. Rumah tipe kebaya mempunyai beberapa pasang atap, yang apabila dilihat dari samping kelihatannya berlipat-lipat seperti lipatan kebaya. Sedangakan rumah tipe joglo mempunyai atap yang menjulang ke atas dan tumpul seperti atap rumah joglo di Jawa.

1 comment:

  1. Salam dari Rawabelong
    http://ajitec.blogspot.com/

    ReplyDelete